HANYA
selama 23 hari tayang, film tersebut
Jumbo
menulis catatan penting dalam dunia animasi tanah air. Pada hari Rabu, 23 April 2025, total penonton telah mencapai
Jumbo
sudah mencapai angka 6.322.000. Pada hari sebelumnya,
Jumbo
Bahkan menambah total layar hingga 1.109 di bioskop seantero Indonesia dan meraih angka penjualan tiket sebesar 4.200 tayangan yang habis terjual.
Jumbo
Film Kartun Indonesia Paling Laku Sepanjang Masa
Kesuksesan
Jumbo
mengejutkan pembuatannya juga. Dihubungi
Tempo
Pada hari Jumat, tanggal 18 April 2025, sang sutradara dan juga penulis
Jumbo
,
Ryan Adriandhy
dia berkata, “Perasaanku sama seperti kawan-kawanku yang membuatnya.”
Jumbo
, kacau balik. Yang jelas sangat bahagia, bangga, dan tersentuh. Pada saat yang sama juga merasa kebingungan. Tercengang.”
Alumni animator dari Universitas Binus dan Institut Teknologi Rochester (RIT) tersebut pun mengekspresikan kegembiraannya terhadap kesuksesan yang diraihnya dengan perasaan bersyukur.
Jumbo
Dia menyebutkan bahwa kesuksesan film tersebut turut dirasakan oleh berbagai kalangan lainnya. Ada banyak pihak yang termotivasi untuk menciptakan karya-karya baru seperti itu.
fanart
,
merchandise
, serta menyanyikan lagu-lagu
Jumbo
dari sekolah sampai khotbah misa di gereja.

Romo Yosafat Dhani Puspantoro yang berasal dari Gereja Katedral Semarang sedang memberi khotbah pada Misa Kamis Putih sambil menyanyikan lagu Jumbo berjudul “Selalu Ada di Nadimu”. Gambar ini diambil dari akun Instagram resmi Gereja Katedral Semarang.
Besarnya jumlah penonton
Jumbo
juga menginisiasi babak baru dalam bidang animasi lokal. Sebelumnya, selama minggu pertama pemutaran, mulai dari tanggal rilis awal 31 Maret 2025,
Jumbo
telah meraih satu juta penggemar. Prestasi tersebut menjadikannya film animasi paling sukses di Indonesia sepanjang zaman, melampaui urutan
Si Juki Film: Komite Hari Kiamat
(2017) yang sebelumnya menyedot 642.312 pengunjung.
Produk buatan Visinema Studios ini pun sukses mengungguli beberapa film animasi Hollywood di pasaran Indonesia, layaknya
Minions: Kebangkitan Gru
(2022) dengan 2,5 juta pengunjung dan
Moana 2
(2024) dengan 3,1 juta pengunjung. Kini, Jumbo pun telah mengalahkan rekornya sendiri.
Frozen II
(2019), yang sebelumnya merupakan film animasi paling sukses di Indonesia berdasarkan catatan Cinepoint, telah mencapai angka lebih dari 4,6 juta penonton.
Estafet Kesuksesan dari
Si Juki
ke
Jumbo
Keberhasilan
Si Juki
sebelumnya, sebagai salah satu pendiri animasi lokal yang telah meneruskan keberhasilannya kepada generasi berikutnya, hal ini menjadi estafet kemajuan bagi industri tersebut.
Jumbo
.Apa yang dimulai dengan
Si Juki
Kini tumbuh semakin pesat melalui karya animasi yang dibuat Ryan bersama lebih dari 420 pemuda negeri ini tersebut. Kreator
Si Juki
,
Faza Meonk
, menyajikan sudut pandang yang menarik tentang keberhasilan
Jumbo
.
Bercerita kepada
Tempo
Pada hari Rabu, tanggal 16 April 2025, Faza menyatakan tentang prestasi tersebut.
Jumbo
Sesungguhnya layak dianggap sebagai kenaikan dalam industri animasi lokal. “Secara positif, semestinya lebih banyak investor mulai yakin untuk berinvestasi,” ujarnya.
Faza berharap, dengan suksesnya
Jumbo
, semakin banyak projek animasi yang bakal menerima dukungan finansial, sehingga membuka kesempatan baru bagi pencipta lokal di masa depan. Dia menambahkan bahwa dengan rancangan siaran internasional tersebut,
Jumbo
Di 17 negeri tersebut, film ini berpotensi membawa kenaikan pendapatan yang signifikan untuk sektor animasi dalam negeri.

Si Juki juga mengiklankan film Jumbo. Gambar: Si Juki.
Animator pemenang Piala Citra tersebut pun menyebutkan aspek-aspek yang menjadi alasannya
Jumbo
Saat sudah berhasil, baik dalam hal budget maupun kualitas cerita yang memukau para pemirsa. “Tidak tanggung-tanggung soal dana, Visinemanya,” katanya. Menurut Faza, kesuksesan film tersebut tak cuma berkat aspek teknikal saja, tetapi juga karena mampunya mengena di perasaan penonton.
“Dari
plot
“Meskipun mungkin tidak menjadi yang teratas, film ini cukup menyita perhatian dan emosi penonton di Indonesia,” katanya. Terlebih lagi, Faza juga menekankan aspek penting lainnya yang memicu ketenaran film tersebut.
Jumbo
—misalnya jadwal tayang pada masa Lebaran, kualitas animasi yang unggul, dukungan dari pihak pemerintah, serta strategi promosi yang berhasil mencakup tema lagu yang memorable dan populer seperti ‘Selalu Ada di Nadimu’, ‘Dengar Hatimu’, sampai dengan ‘Kumpul Bocah’. “Oleh sebab itu menjadi media marketing yang bagus karena semua orang sangat menyukai soundtracnya,” ungkap Faza tambahan.
Terkait peranan pemerintah, Faza berpendapat bahwa sekarang ini dukungannya terhadap industri animasi telah meningkat secara signifikan bila dibandingkan ketika dia sedang mengerjakan proyek tersebut.
Si Juki
. “Sebelum
Jumbo
, mungkin tidak serumit ini dukungannya. Dukungan memang hadir, tetapi ini adalah kali pertama saya menyaksikan pemerintah memberikan apresiasi sesempurna ini untuk industri animasi, dan hal itu baru terwujud akhir-akhir ini.
Jumbo
,” ujarnya.
Faza pun menunjukkan perbedaan yang mencolok tersebut.
Si Juki
dan
Jumbo
, terlebih dalam hal budgeting dan tingkat produksinya. “Budget Si Juki tidaklah besar. Saya sempat berkata bahwa membuat sebuah film animasi seharusnya melibatkan tahapan-tahapannya, bukannya langsung menjadi besar,” jelas Faza. Dia juga menekankan perbedaan yang signifikan pada kualitas grafis animasi; di mana Si Juki menggunakan teknik animasi 2D, sedangkan
Jumbo
teknologi 3D yang lebih canggih dan memerlukan banyak sumber daya tambahan.
Kepercayaan Jadi Kunci Sukses
Jumbo
Kepada
Tempo
, Ryan sebagai pembuat cerita pun berbagi mengenai tahap perencanaan serta elemen-elemen yang mendukung keberhasilannya.
Jumbo
. Di luar mengerahkan lebih dari 420 animator lokal lainnya, projek tersebut berlangsung selama lima tahun mulai tahun 2019. Menurut Ryan, salah satu aspek kunci keberhasilannya adalah hal itu.
Jumbo
adalah adanya kepercayaan dari
Visinema
Studio, pemodal, serta semua pihak yang berpartisipasi dalam pembuatan film tersebut. Menurut pendapat saya, ada satu kata kunci yang sangat signifikan yakni
trust
(kepercayaan),” ungkapnya.
Ryan menjelaskan bahwa proyek animasi menghabiskan waktu dan sumber daya yang jauh lebih besar dibandingkan dengan pembuatan film, di mana prosesnya relatif lebih cepat dan lebih dikenal oleh banyak orang. Di bidang perfilman, produser serta pencipta sudah biasa dengan skema bisnis yang memperbolehkan mereka mendapatkan laba hanya dalam rentang waktu pendek, yaitu antara 6 sampai 8 bulan sesudah konsep ceritanya direalisasikan.
Namun, untuk
film animasi
Prosesnya cukup lama dan mencakup partisipasi yang lebih besar dari pihak-pihak terkait. “Bisa jadi sampai saat ini keyakinan belum terealisasikan oleh para pemodal, sehingga mereka enggan melakukan pekerjaan berdasarkan model bisnis semacam itu,” ungkapnya.
Menurut pria yang lahir pada tahun 1990 tersebut, keyakinan merupakan hal penting agar seluruh anggota tim dapat memberikan performa terbaik mereka. Dia menekankan bahwa kepercayaan ini harus ada di antara semua orang dalam tim termasuk animators, pencipta konten, pemain, dan bahkan tim promosi. Ia mengatakan demikian.
Keyakinan yang dipercayai tak hanya terjadi di balik layar pada tim produksi, tetapi juga ketika disambut oleh para penonton. Ryan menganggap tren #BuzzerJumbo di platform-media sosial menjadi bukti konkret bahwa pemirsa memiliki hubungan emosi yang mendalam dengan film tersebut. Tagar itu mewakili dukungan alami dari kalangan penggemar lewat dunia maya. “Mereka pun merasa hal ini adalah momen istimewa pantas untuk dirayakan,” ujarnya.
Si Juki
dan animasi dari Malaysia,
BoboiBoy
yang menyatakan dirinya sendiri sebagai buzzer Jumbo semenjak awal penayangannya.

BoBoiBoy, Jumbo, dan Papa Pipi menyokong film Jumbo melalui unggahan BoBoiBoy. Foto: Instagram.
Keyakinan tersebut pada akhirnya menghasilkan suatu pengalaman bersama yang dihayati dan dimeriahkan oleh sejumlah besar individu. Bahkan ia menceritakan tentang para pemirsa yang sangat bergairah, dengan beberapa di antaranya telah menyaksikan pertunjukan tersebut sampai tujuh atau delapan kali. Ada juga yang tak segan melakukan perjalanan lintas kepulauan atau tempat-tempat jauh demi bisa melihat langsung acara tersebut.
Jumbo
.
Anggaran hingga Dukungan Pemerintah
Tentang bantuan yang diberikan oleh pemerintah untuk film tersebut
Jumbo
, Ryan menceritakan bahwa ada banyak dukungan yang diberikan oleh Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf), terutama melalui pengembangan citra merek dan kampanye pemasaran. “Saya merasakan begitu besarnya dukungan dari para kolega di Kemenekraf untuk membantu kami dalam meningkatkan visibilitas brand.”
Intellectual Property
-D nya, dan kita tidak mengalokasikan dana untuk itu,” jelas Ryan. Beberapa contohnya meliputi penempatan balon berukuran besar bertema Donald di Candi Prambanan dan di Pantai Indah Kapuk, serta pertunjukkan
drone
Yang menciptakan wajah Don di Central Park. Bahkan, di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, saat ini terdapat karakter dari film tersebut.
Jumbo
di pajangkan untuk memberi dukungan dalam mengiklankan film tersebut.
Terkait dengan budget, Ryan tidak mau menyebutkan jumlah pasti, tetapi dia menegaskan bahwa alokasi dana tersebut akan disesuaikan berdasarkan kebutuhan.
Jumbo
sangat lebih besar dari filmnya
live action
secara khusus. “Nomornya mungkin bertambah menjadi tiga kali lipat dibandingkan dengan film tersebut.”
live action
“yang memiliki budget besar,” kata Ryan. Menurut dia, hal itu menunjukkan komitmennya Visinemastudios dalam menyajikan kualitas tertinggi.
Jumbo
.
Dia juga menyebutkan bahwa sektor animasi mengharuskan adanya investasi yang lebih besar, durasi waktu yang cukup lama, serta keahlian kreatif yang signifikan. Terkait hal itu, komitmen studio Visinema telah dibuktikan melalui pencapaiannya.
Jumbo
Yang telah menghasilkan pendapatan melebihi US$ 8 juta (kira-kira Rp 134,46 miliar) berdasarkan keterangan Ryan.
Ryan juga sangat yakin akan perkembangan industri animasi tanah air. Dia meyakini bahwa Indonesia mempunyai kesempatan besar untuk berkompetisi secara global, karena jumlah seniman lokal yang signifikan turut serta dalam proses produksi.
Jumbo
“Setelah diproduksi secara efektif, dipromosikan dengan tepat, dan disampaikan dengan jelas, audiens Indonesia menanggapi dengan penuh semangat. Hal ini mengindikasikan bahwa kita mampu berkompetisi pada level global,” katanya.
Dia menyebutkan bahwa kesempatan yang muncul melalui
Jumbo
perlu dirawat dengan baik supaya bisa diteruskan serta memberikan kontribusi dalam kemajuan industri animasi lokal ke depannya. “Tadi penyerahan tongkat estafet oleh
Si Juki
lalu sekarang di
Jumbo
, nantinya jika Jumbo beroperasi kembali, tujuannya adalah tidak mengurangi semangat tim,” ujar Ryan, menyelesaikan pembicaraan mereka.
Kisah
Jumbo
Ikut serta dalam kisah ini adalah karakter utama bernama Don (diperankan oleh Prince Poetiray dan Den Bagus Sasono), remaja yang penuh kasih sayang terhadap peninggalan buku cerita rakyat dari kedua orangtuanya (Ariel Noah dan Bunga Citra Lestari). Selama pertumbuhanannya di bawah asuhan Oma-nya (Ratna Riantiarno), ia menjalin persahabatan dengan Nurman (Yusuf Ozkan) dan Mae (Graciella Abigail). Ceritanya menjadi lebih rumit ketika koleksi bukunya dirampas oleh Atta (M. Adhiyat); perjalanan itu kemudian mengarah ke pertemuan denga Meri (Quinn Salman), seorang gadis dari dimensi lain sedang menelusuri jejak untuk mencari orang tua mereka sendiri (Ariyo Wahab dan Cinta Laura Kiehl).
Bukan hanya ditayangkan di dalam negeri,
Jumbo
Ditetapkan untuk ditayangkan di bioskop Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam pada bulan Juni 2025. Film tersebut juga bakal diputar di 17 negara lainnya yang terletak di Asia Tengah dan Eropa; termasuk Rusia, Belarus, Ukraina, Moldova, Armenia, Azerbaijan, Georgia (meliputi Abkhazia dan South Ossetia), Kazakhstan, Kirgizstan, Tajikistan, Turkiemenstan, Uzbekistan, Estonia, Latvia, serta Lithuania.
